INFEKSI SALURAN KEMIH
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
ALLAH SWT, Tuhan yang masa Esa karena dengan izin-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah yang berjudul “Infeksi Traktus Urinarius Pada Kehamillan dan Persalinan”
makalah ini disusun sebagai upaya memenuhi tugas. Makalah ini diharapkan dapat
membantu dosen dan mahasiswa kebidanan dalam menyelesaikan proses
balajar-mengajar sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Kami menyadari penulisan makalah ini masih banyak kekurangan untuk itu
kami mengharapkan kritik dan saran dari siapa saja yang bersifat membangun akan
tercapai suatu kesempurnaan dalam memenuhi kebutuhan tugas ini lebih dan
kurangnya kami mohon maaf.
Bukittinggi, 26
April 2017
penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR……………………………………………………………….1
DAFTAR
ISI…………………………………………………………………………2
BAB
I PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang…………………………………………………………….3
1.2
Rumusan Masalah…………………………………………………………3
1.3
Tujuan……………………………………………………………………..4
BAB
II TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi Infeksi
Traktus Urinarius………………………………………...5
2.2
Etiologi Infeksi Saluran Kemih………………………………………...…6
2.3
Patofisiologi Infeksi Saluran Kemih……………………………………...6
2.4
Diagnosa Klinis Infeksi Saluran Kemih…………………………………..7
2.5
Penapisan Infeksi Saluran Kemih………………………………………....7
2.6 Komplikasi Akibat
Infeksi Saluran Kemih………………………………..7
2.7 Akurasi Pemeriksaan
Infeksi Saluran Kemih……………………………..8
2.8 Tata Laksana………………………………………………………………9
2.9 Pencegahan Infeksi
Saluran Kemih……………………………………...10
BAB
III PENUTUP
5.1 Kesimpulan………………………………………………………………11
5.2 Saran……………………………………………………………………..11
DAFTAR
PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Infeksi saluran kemih
(ISK) sering ditemukan pada kehamilan, dengan prevalensi rerata sekitar 10%.1
Infeksi saluran kemih dibagi menjadi ISK bagian bawah (bakteriuria asimtomatik,
sistitis akut), dan ISK bagian atas (pielonefritis). ISK tidak bergejala
(bakteriuria asimtomatik) dan ISK bergejala (sistitis akut dan pielonefritis)
masing-masing ditemukan pada 2-13% dan 1-2% ibu hamil. Di Indonesia, prevalensi
bakteriuria asim-tomatik pada kehamilan adalah 7,3%.
Perubahan fisiologis
pada saluran kemih sepanjang kehamilan meningkatkan risiko ISK. Pengaruh
hormone progesteron dan obstruksi oleh uterus menyebabkan dilatasi sistem
pelviokalises dan ureter, serta peningkatan refluks vesikoureter. Tekanan oleh
kepala janin juga menghambat drainase darah dan limfe dari dasar vesika,
sehingga daerah tersebut mengalami edema dan rentan terhadap trauma.
ISK telah diketahui
berhubungan dengan kesudahan kehamilan yang buruk, seperti persalinan preterm,
pertumbuhan janin terhambat, bahkan janin lahir mati (stillbirth). Komplikasi ini bukan hanya akibat ISK bergejala,
tetapi bakteriuria asimtomatik juga dapat menyebabkan komplikasi tersebut.
Bakteri patogen dari vesika dapat membentuk koloni pada saluran genitalia
bagian bawah, dan menyebabkan korioamnionitis.5 Oleh sebab itu, sangat penting
bagi seorang dokter dapat melakukan upaya skrining, diagnosis, serta pemberian
terapi yang sesuai pada ibu hamil dengan ISK.
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud infeksi traktus urinarius?
2. Bagaimana
etiologi infeksi saluran kemih?
3. Bagaimana
patofisiologi infeksi saluran kemih?
4. Bagaimana
diagnosa klinis infeksi saluran kemih?
5. Bagaimana
penapisan yang dilakukan pada infeksi saluran kemih?
6. Apa
komplikasi yang terjadi akibat infeksi saluran kemih?
7. Bagaimana
akurasi pemeriksaan pada infeksi saluran kemih?
8. Bagaimana
tata laksana yang dilakukan untuk infeksi saluran kemih?
9. Bagaimana
pencegahan yang dilakukan untuk infeksi saluran kemih?
1.3
Tujuan
1. Untuk
mengetahui defenisi infeksi traktus urinarius
2. Untuk
mengetahui etiologi infeksi saluran kemih
3. Untuk
mengetahui patofisiologi infeksi saluran kemih
4. Untuk
mengetahui diagnosa klinis infeksi saluran kemih
5. Untuk
mengetahui penapisan yang dilakukan pada infeksi saluran kemih
6. Untuk
mengetahui komplikasi yang terjadi akibat infeksi saluran kemih
7. Untuk
mengetahui akurasi pemeriksaan pada infeksi saluran kemih
8. Untuk
mengetahui tata laksana yang dilakukan untuk infeksi saluran kemih
9. Untuk
mengetahui pencegahan yang dilakukan untuk infeksi saluran kemih
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Definisi
Infeksi
saluran kemih adalah keadaan yang ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam
kultur/biakan urin dengan jumlah >105 /ml. Terdapat 2 keadaan infeksi
saluran kemih pada wanita hamil, yakni infeksi saluran kemih yang menimbulkan
gejala (simptomatik) serta yang tidak menimbulkan gejala (asimptomatik).
Bakteriuri
simptomatik ialah infeksi saluran kemih yang disertai gejala klinis, seperti
disuria, hematuria, nyeri di daerah simpisis, terdesak kencing (urgency),
stranguria, tenesmus, dan nokturia. Bakteriuri simptomatik umunnya dibagi lagi
menjadi infeksi saluran kemih bagian bawah (sistitis), dan infeksi saluran
kemih bagian atas (pielonefritis).
Bakteriuri
asimptomatik terjadi bila ditemukannya bakteri dalam biakan urin dengan jumlah
>105 /ml dan tidak menimbulkan gelaja-gejala klinis terinfeksi bakteri.
Kejadian ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti ras, usia ibu, dan penyakit
komorbid.
Ibu
hamil yang terdiagnosis bakteriuri asimptomatik memiliki risiko yang lebih
tinggi menderita pyelonephritis, dimana hal tersebut dapat meningkatakan risiko
prematuritas pada janin. Kejadian ini dapat dihindari bila bakteriuria asimptomatik
diobati sampai tuntas.
Terdapat
banyak faktor yang bisa menyebabkan bakteriuria pada kehamilan yaitu sosial
ekonomi, ras, usia, penyakit penyerta, dan infeksi bakterial vaginosis. Riwayat
infeksi saluran kemih sebelumnya juga menjadi salah satu faktor risiko infeksi
saluran kemih pada kehamilan.
2.2
Etiologi
Penyebab
tersering infeksi saluran kemih yaitu Eschericia coli (80– 90%). Selain E.
coli, banyak bakteri gram negatif lain yang dapat menyebabkan infeksi saluran
kemih, yaitu Klebsilla, Proteus, dan Enterobacter, tetapi bakteri-bakteri
tersebut hanya menyebabkan infeksi ringan. Selain bakteri tersebut, bakteri
gram positif juga dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, yaitu Staphylococcus
saprophyticus (10-15%).
2.3
Patofisiologi
Rasio
kejadian bakteriuri asimptomatik pada wanita hamil dan tidak hamil hampir sama.
Perbedaannya adalah pada wanita yang tidak hamil, risiko komplikasinya lebih
rendah dibanding wanita hamil. Hal ini dikarenakan, pada wanita hamil terjadi
berbagai perubahan morfologi akibat kehamilan.
Pada
wanita hamil, terjadi peningkatan hormon progesteron yang menyebabkan
terjadinya dilatasi pelvis renal dan ureter, sehingga daya tampung urin menjadi
semakin meningkat. Selain itu, adanya efek penekanan dari uterus seiring bertambahnya
kehamilan, menyebabkan terdesaknya vesica urinaria ke anterior dan superior. Kedua
hal tersebut menyebabkan pengaliran urin terbendung dan terjadinya refluks
vesicoureteral yaitu naiknya urin ke sistem urinarius bagian atas serta membawa
kuman yang berada di vesica urinaria.
Meningkatnya
hormon progesteron juga menyebabkan terjadinya kelemahan otot-otot polos, sehingga tonus otot berkurang, dan terjadi
penurunan peristaltik ureter, peningkatan kapasitas penampungan urin, dan
penurunan kemampuan pengosongan urin. Hal ini menyebabkan stasis urin sering
terjadi.
Tubuh
mempunyai suatu mekanisme untuk mencegah tumbuhnya bakteri yang dapat
menimbulkan infeksi pada saluran kemih. Sebagai contoh osmolaritas urin,
konsentrasi urea, dan pH urin yang rendah adalah beberapa faktor penting yang
dapat menghambat perkembangan bakteri.3Namun, pada kehamilan, terjadi perbedaan
pH serta osmolalitas urin, selain itu timbulnya glukosuria yang diinduksi
kehamilan, menyebabkan pertumbuhan bakteri lebih mudah terjadi.
2.4
Diagnosis Klinis
Gejala
klinis pada bakteriuri asimptomatik tidak menonjol karena tidak adanya gejala
yang muncul. Tetapi diagnosis dapat ditegakkan apabila pada pemeriksaan
laboratorium di temukan >105 Colony
Forming Unit (CFU)/ml pada biakan atau kultur urin setelah dua kali pemeriksaan
labroratorium. Selain itu, pada urinalisis dapat ditemukan adanya leukosit.
Leukosituri dikatakan bermakna apabila ditemukan ≥10/LPB.
2.5
Penapisan
Belum
ditemukan kapan seharusnya dilakukan penapisan atau screening untuk bakteriuria
asimptomatik. Namun risiko terjadinya bakteriuria selama kehamilan umum nya meningkat
0,8% pada minggu ke-12 dan meningkat 1,93% pada akhir kehamilan. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Schnarr, skrining yang optimal dilakukan pada
minggu ke-16, hal ini dikarenakan pengobatan pada minggu tersebut memberikan
hasil yang lebih besar untuk menghasilkan kondisi bebas bakteri pada urin
2.6
Komplikasi
Bila
bakteriuri asimptomatik tidak ditangani hingga tuntas, maka akan menyebabkan
timbulnya gejala (bakteriuri simptomatik), dimana apabila hal ini terus
berlanjut akan menyebabkan ketuban pecah dini dan lahirnya janin dengan keadaan
prematur. Hal ini disebabkan pada keadaan infeksi saluran kemih, bakteri
mengeluarkan endotoksi yang akan memicu pengeluaran dan pembentukan sitokin
proinflamasi, seperti IL1, IL6, IL8, dan TNFα. Pengeluaran sitokin-sitokin
tersebut akan memicu pengeluaran prostaglandin yang akan memicu uterus untuk
berkontraksi, sehingga terjadi persalinan prematur. Selain itu, sitokin
proinflamasi juga akan merubah struktur serviks dan membran fetus sehingga
terjadi ketuban pecah dini.
2.7
Akurasi Pemeriksaan
Leukosit
dalam Urin Pada kasus ISK, penegakkan diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan
kultur urin dan ditemukan >100.000 kolonisasi bakteri /ml urin. Tetapi pada
pemeriksaan kultur dibutuhkan waktu dan biaya yang cukup mahal walaupn
pemeriksaan ini merupakan periksaan Gold Standart untuk ISK. Selain pemeriksaan
kultur dapat pula dilakukan pengecatan Gram, tetapi pemeriksaan ini pun harus
dilakukan olah orang yang memiliki keahlian khusus. Ada satu pemeriksaan yang
mudah dan umum dilakukan yaitu pemeriksaan urin rutin yaitu dengan menghitung
leukosit dalam urin untuk membantu diagnosis bakteriuri yang infektif.
Pada
pemeriksaan urinalisis, leukosituri dikatakan bermakna apabila didapatkan nilai
sebesar ≥10 LPB /ml urin, dimana nilai ini memiliki sensitifitas sebesar 70%
dan spesifisitas sebesar 80%. Selain itu, pada penelitian Nuada disebutkan,
pemeriksaan urinalisis dengan leukosit sedimen ≥5/LPB mempunyai hubungan
bermakna dengan hasil kultur urin, dimana pada leukosit sedimen ≥5/LPB memiliki
kemungkinan kultur urin postif (menderita ISK) 8,3 kali lebih besar dibanding
dengan leukosit sedimen.
2.8
Tata laksana
Tabel 1. Tata Laksana Infeksi
Saluran Kemih pada Kehamilan.
Antibiotik oral Amoksisilin 3 x 500
mg
Sefadroksil 2 x 500 mg
Sefaleksin 3 x 250 mg
Fosfomisin 3 g dosis
tunggal
Nitrofurantoin 3 x 100 mg (tidak
digunakan pada trimester tiga)
Kotrimoksazol 2 x 960 mg (hanya boleh
digunakan pada trimester kedua)
Antibiotik intravena
untuk Sefuroksim 3 x 750 mg –
1.5 g
pielonefritis Amoksisilin 3 x
1 gSeftriakson 1 x 2 g
Ampisilin-sulbaktam 4 x 3 g (2 g
ampisilin + 1 g sulbaktam) Gentamisin 5-7 mg/kg sebagai dosis awal.
Dosis berikutnya diberikan 3-5
mg/kg/hari dalam 3 dosis terbagi, dengan tetap memantau kadargentamisin serum.
Gentamisin digunakan pada wanita dengan alergi terhadap, atau organismeresisten
terhadap penisilin dan sefalosporin.
Lama
terapi Bakteriuria
asimtomatik: 3 hari
Sistitis
akut: 5-7 hari
Pielonefritis:
10-14 hari
Semua ISK pada
kehamilan, baik bergejala maupun tidak, harus diterapi. Oleh sebab itu,
skrining bakteriuria asimtomatik pada kehamilan dilakukan minimal satu kali
pada setiap trimester. Nitrofurantoin harus dihindari pada trimester ketiga
karena berisiko menyebabkan anemia hemolitik pada neonatus.
Beberapa penelitian
menemukan adanya resistensi antibiotik yang cukup tinggi pada bakteri patogen
yang menyebabkan ISK, antara lain extended
spectrum betalactamase E.coli (ESBL)
dan MRSA (methicillin resistant
staphylococcus aureus).
Golongan antibiotik yang sudah dilaporkan mengalami resistensi adalah golongan
betalaktam, kuinolon, dan aminoglikosida. Antibiotik yang masih jarang
dilaporkan resistens adalah golongan glikopeptida, nitrofurantoin, dan
karbapenem. Oleh sebab itu, sangatlah penting untuk memilih antibiotik
berdasarkan profil bakteri patogen dan sensitivitas antibiotik setempat.
2.9
Pencegahan
Sekitar 15% ibu hamil
akan mengalami ISK berulang sehingga dibutuhkan pengobatan ulang dan upaya
pencegahan. Beberapa negara sudah mengeluarkan panduan untuk pencegahan ISK
berulang dengan antimikroba, baik secara terus-menerus maupun pascasanggama,
dan dengan terapi non-antimikroba seperti konsumsi jus cranberry.
Pemberian antibiotik
profilaksis secara terus-menerus hanya dianjurkan pada wanita yang sebelum
hamil memiliki riwayat ISK berulang, atau ibu hamil dengan satu episode ISK
yang disertai dengan salah satu faktor risiko berikut ini: riwayat ISK
sebelumnya, diabetes, sedang menggunakan obat steroid, dalam kondisi penurunan
imunitas tubuh, penyakit ginjal polikistik, nefropati refluks, kelainan saluran
kemih kongenital, gangguan kandung kemih neuropatik, atau adanya batu pada
saluran kemih.
Antibiotik profilaksis
pascasanggama diberikan pada ibu hamil dengan riwayat ISK terkait hubungan seksual.
Pada kondisi ini, ibu hamil hanya minum antibiotik setelah melakukan
berhubungan seksual, sehingga efek samping obat yang ditimbulkan akan lebih
sedikit bila dibandingkan dengan antibiotik profilaksis yang digunakan secara
terus-menerus.
Antibiotik profilaksis
yang dapat digunakan secara terus menerus sepanjang kehamilan adalah sefaleksin
per oral satu kali sehari 250 mg atau amoksisilin per oral satu kali sehari 250
mg. Antibiotik yang sama dapat digunakan sebagai profilaksis pascasanggama
dengan dosis yang sama sebagai dosis tunggal.
Beberapa penelitian
menunjukkan manfaat jus cranberry dalam
menurunkan kejadian ISK. Jus cranberry
diperkirakan dapat
mencegah adhesi bakteri patogen, terutama E. coli, pada sel-sel epitel saluran kemih. Jus cranberry dapat dikonsumsi dengan aman pada
kehamilan, tetapi pada beberapa
pasien mungkin dapat muncul efek samping gastrointestinal seperti mual dan muntah karena jus
ini bersifat asam.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Infeksi
saluran kemih adalah keadaan yang ditandai dengan ditemukannya bakteri dalam
kultur/biakan urin dengan jumlah >105 /ml. Terdapat 2 keadaan infeksi
saluran kemih pada wanita hamil, yakni infeksi saluran kemih yang menimbulkan
gejala (simptomatik) serta yang tidak menimbulkan gejala (asimptomatik).
Ibu
hamil yang terdiagnosis bakteriuri asimptomatik memiliki risiko yang lebih
tinggi menderita pyelonephritis, dimana hal tersebut dapat meningkatakan risiko
prematuritas pada janin. Kejadian ini dapat dihindari bila bakteriuria
asimptomatik diobati sampai tuntas.
3.2 Saran
Diharapkan
tenaga kesehatan khususnya bidan dapat memahami tentang infeksi traktus
urinarius pada kehamilan dan persalinan dengan benar, sehinnga bidan dapat
memberikan informasi tentang infeksi traktus urinarius kepada klien dengan baik
dan benar.
DAFTAR PUSTAKA
Rukiyah, Ai Yeyeh dkk. 2010. Asuhan
Kebidanan IV (Phatologi Kebidanan). Jakarta: Trans Info Media
Prawirohardjo, Sarwono, 2005. Ilmu
Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Komentar
Posting Komentar